Ketik pencarian Anda

Uncategorized

Tolak! Gesek Ganda Kartu Kredit di Mesin Kasir

JAKARTA – Maraknya pemberitaan dari bahaya penggesekan ganda (double swipe) pada kartu kredit dan kartu debit tidak bisa dianggap remeh. Pasalnya kartu kredit Anda hanya boleh digesek pada mesin Electronik Data Capture (EDC) dan tidak boleh digesek oleh kasir di keyboard atau mesin kasir setiap merchant. Karena, penggesekan ganda berisiko data Anda bisa langsung terbaca bahkan langsung tersalin.

Hal ini langsung mendapat tanggapan dari pihak Asosiasi Kartu Kredit Indonesia (AKKI) secara lantang melarang praktik ini. “Kami sangat melarang praktek ini. Kami sudah berbicara dengan bank-bank pengelola untuk segera menginformasikan kepada merchant untuk tidak melakukan hal ini,” kata General Manager Asosiasi Kartu Kredit Indonesia (AKKI) Steve Marta saat dihubungi wartawan Okezone.com.

Steve pun mengungkapkan, apabila pihak merchant melanggar ketentuan ini, maka pihak bank diminta untuk mengambil tindakan tegas dengan memutuskan hubungan kerjasama. Serupa dengan peraturan yang diterbitkan oleh Bank Indonesia (BI) melalui Peraturan Bank Indonesia Nomor 18/40/PBI/2016 tentang Penyelenggaraan Pemroses Transaksi Pembayaran.

Sedangkan dilansir dari Sindonews.com menurut pakar keamanan siber Pratama Persadha, pengamanan kartu debit dan kartu kredit di Tanah Air masih lemah. Sehingga, data nasabah mudah sekali digandakan.

Pratama juga mengatakan pemerintah harus memberikan sosialisasi melalui edukasi kepada para nasabah karena hal ini terkait keamanan data pengguna kartu debit dan kartu kredit.

Baca juga:  Dunia Kecam Uji Coba Bom Nuklir Korut

Langkah ini dilakukan karena beberapa waktu lalu Bareskrim Mabes Polri menangkap penjual data nasabah di daerah Bogor yang memiliki hampir dua juta data dan dijual bebas  melalui jaringan internet.

Berkaca dari kasus tersebut Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) bisa menjadi badan yang mengeluarkan standar perlindungan terhadap data pribadi.

“Hal ini menjadi tanggung jawab bersama pemerintah dan perbankan agar data tidak mudah diambil dan disalah gunakan,” ujar Pratama.*