Ketik pencarian Anda

Editor's Choice

Simak! Berikut 11 Fakta Menarik di Balik Rupiah

Dalam keseharian banyak orang, uang menjadi salah satu kebutuhan yang sulit dilepaskan. Terkadang gara-gara uang kita sampai mengernyitkan dahi dan menggeleng-gelengkan kepala.Tapi, tahukah Anda kalau uang kertas di Indonesia pertama kali digunakan saat masa penjajahan Belanda dengan mata uang Gulden?

Uang kertas Rupiah pertama di cetak tahun 1946 dengan denominasi terendah 1 Sen. Sebagai informasi, 1 Rupiah setara dengan 100 Sen. Di luar itu, ada 11 fakta lain di balik lahirnya mata uang Republik Indonesia. Mau tahu apa saja 11 fakta tersebut? Berikut ini ulasannya.

  1. Lahir Saat RI Dilanda Inflasi Tinggi

Negara Republik Indonesia yang merdeka pada 17 Agustus 1945 sedang berada pada kondisi ekonomi yang buruk sehingga kala itu hidup serba sulit. Inflasi tinggi menjadi sebab utama memburuknya ekonomi karena tiga mata uang beredar di Indonesia yakni mata uang De Javasche Bank, Gulden Hindia Belanda, dan uang masa penjajahan Jepang.

  1. Tiga Kali Pergantian Menteri Keuangan Sebelum Terbitnya Rupiah

Dr. Samsi adalah Menteri Keuangan Pertama setelah Indonesia merdeka. Kebutuhan akan dana untuk membiayai perjuangan Republik Indonesia menjadi fokus dari Dr. Samsi. Ia pun berhasil mencairkan dana yang kemudian digunakan untuk perjuangan kemerdekaan. Pada 26 September 1945, Dr. Samsi menyatakan pengunduran diri.

Jabatan Menteri Keuangan kemudian dipegang A.A. Maramis. Pada masanya, A.A. Maramis membentuk Panitia Penyelenggaraan Percetakan Uang Kertas Republik Indonesia. A.A. Maramis kemudian digantikan Sunarjo Kolopaking. Yang pada perjalanannya kemudian digantikan Ir. Surachman Tjokroadisurjo yang dipilih Kabinet Sjahrir sebagai Menteri Keuangan. Namun, pada 2 Oktober 1946, Ir. Surachman menyerahkan posisinya kepada Mr. Sjafruddin Prawiranegara. Pada masanya, Rupiah diterbitkan pertama kali.

  1. Diedarkan dengan nama Oeang Repoeblik Indonesia (ORI)
Baca juga:  Info Transfer Liga Inggris: Pemain Liverpool Ini Dipastikan Angkat Kaki dari Anfield

Setelah terpilih sebagai Menteri Keuangan menggantikan Ir. Surachman, Mr. Sjafruddin Prawiranegara bertekad untuk mempercepat lahirnya mata uang Indonesia. Menurutnya, dengan memiliki mata uang sendiri, Indonesia bisa menunjukkan dirinya sebagai negara berdaulat.

Pada 30 Oktober 1946, Indonesia memiliki mata uang sendiri yang resmi beredar dengan nama Oeang Repoeblik Indonesia (ORI). Mata uang lain yang beredar waktu itu otomatis tidak berlaku lagi.

  1. Hatta Berpidato Menjelang Lahirnya ORI

Satu hari sebelum ORI resmi beredar, Wakil Presiden Mohammad Hatta sedang berada di Yogyakarta. Melalui Radio Republik Indonesia (RRI), Hatta mengumumkan akan beredarnya emisi pertama Oeang Repoeblik Indonesia (ORI). Ia menyatakan dengan terbitnya ORI, rakyat Indonesia menutup masa yang penuh penderitaan dan kesukaran. ORI itulah tanda kemerdekaan Republik Indonesia.

  1. Ditandatangani Pertama Kali oleh AA Maramis

Sama seperti uang yang kita lihat sekarang, ORI saat itu juga ditandatangani. Saat itu A.A. Maramis membubuhkan tanda tangannya di lembar ORI yang pertama kali beredar pada 30 Oktober 1946. Tanda tangan tersebut menjadi bukti ORI yang beredar merupakan mata uang Indonesia yang sah.

  1. Belanda Tak Mengakui ORI

Belanda saat itu belum mau mengakui Indonesia sebagai negara merdeka berdaulat, pula tak mengakui ORI sebagai alat tukar. Belanda yang datang kembali ke Indonesia tetap menggunakan mata uangnya demi keperluan militernya. Selain itu, juga bertujuan untuk membuat kondisi perekonomian Indonesia tidak stabil. Walaupun Sekutu hanya mengakui mata uang Belanda, rakyat Indonesia tidak terpengaruh dan tetap menggunakan ORI sebagai alat pembayaran.

  1. Muncul dengan Beragam Seri
Baca juga:  Deteksi Kesehatan Jantung Anda dengan Berjalan Kaki

Pada perkembangannya, ORI muncul dalam berbagai seri. Mulai dari Seri I hingga Seri ORI Baru. ORI Seri I lahir pada 17 Oktober 1945 walaupun saat itu ORI belum resmi beredar. Seri I ini ditandatangani A.A. Maramis. ORI Seri II keluar pada 1 Januari 1947 yang ditandatangani Mr. Sjafruddin Prawiranegara. ORI Seri III keluar pada 26 Juli 1947 yang ditandatangani A.A. Maramis. Lalu kemunculan ORI Seri IV pada 23 Agustus 1948 yang ditandatangani Drs. Mohammad Hatta. Sementara Seri ORI Baru dipakai 17 Agustus 1949 yang ditandatangani Mr. Loekman Hakim. Sementara ORI Seri Republik Indonesia Serikat (RIS) lahir pada 1 Januari 1950.

  1. Hari Lahirnya ORI Disahkan sebagai Hari Keuangan Nasional

Diputuskannya 30 Oktober 1946 sebagai tanggal peresmian Oeang Repoeblik Indonesia (ORI) sekaligus menjadikan tanggal tersebut sebagai Hari Lahirnya Oeang Repoeblik Indonesia (ORI). Pada perjalanannya, tanggal 30 Oktober ditetapkan sebagai Hari Keuangan Nasional oleh Presiden yang saat ini masuk peringatan ke-70.

  1. ORI Hanya Bertahan Lebih dari 3 Tahun

Muncul pertama kali tahun 1946, keberadaan ORI tidak bertahan lama. Penggunaan ORI terpaksa berhenti pada Seri ORI Baru. Setelahnya, tatkala Indonesia menjadi Republik Indonesia Serikat (RIS), mata uang RIS resmi diberlakukan pada 1 Januari 1950 menggantikan Seri ORI Baru.

  1. Perubahan Nama Menjadi Rupiah

Pengakuan Belanda terhadap kemerdekaan Indonesia turut mengubah pemerintahan yang sebelumnya Republik Indonesia Serikat (RIS) menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Perubahan juga terjadi pada De Javasche Bank yang didirikan Hindia Belanda pada 1828. Peran dan fungsi bank ini kemudian digantikan Bank Indonesia (BI) yang resmi berdiri pada 1953. Saat berjalannya peran dan fungsi BI sebagai bank sentral, uang baru mulai dirilis yang kemudian dikenal dengan nama Rupiah.

  1. Anjlok Pada Tahun 1998
Baca juga:  Demam Saat Hamil? Ini Cara Menanganinya

Krisis moneter yang melanda Asia mempengaruhi situasi di Indonesia. Krisis yang bermula di Thailand kemudian merambat ke Indonesia melemahkan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat waktu itu.

Saat itu, nilai tukar Rupiah yang berada di angka Rp2.500 per Dolar Amerika Serikat tahun 1997 anjlok menjadi Rp17.000 per Dolar Amerika Serikat. Perekonomian negara memburuk seketika, perusahaan-perusahaan bangkrut, dan bank-bank besar kolaps. Keadaan mulai membaik setelah Soeharto mengundurkan diri dari posisi sebagai Presiden.

Sumber: Okezone.com

Tags:
Andini Anissa

MNC Update Writer

    1