Ketik pencarian Anda

MNC Media MNC Terkini

Sejarah, Keutamaan dan Niat Puasa Asyura

Foto: Freepik

JAKARTA – Pada tahun ini, hari Asyura atau tanggal 10 Muharram jatuh pada Selasa, 10 September 2019. Puasa Asyura memiliki sejarah yang panjang. Puasa ini sudah dipraktikkan orang Jahiliyah dan umat Yahudi, jauh sebelum datangnya Islam. Mereka berpuasa pada Hari Raya Yom Kippur tanggal 10 bulan Tishri atau 10 Muharram karena pada hari itu Allah menyelamatkan Bani Israel dari musuh-musuhnya.

Sebagai rasa syukur, Nabi Musa as. berpuasa pada hari itu, atau 10 Muharram. Setelah kejadian itu, jadilah puasa Asyura menjadi syariat’ bagi umat Yahudi.

Dalam Kitab Fatkhul Bari, Al-Qurtuby berkata : “Mungkin orang-orang Qurais dulu menyandarkan puasanya kepada syari’at nabi terdahulu seperti Nabi Ibrahim. Sedangkan puasanya Rasulullah SAW, bisa jadi karena kecocokan kepada mereka sebagaimana dalam masalah haji, atau karena Allah mengizini beliau untuk berpuasa karena itu termasuk pekerjaan yang baik.

Ketika beliau hijrah ke Madinah dan menemukan orang-orang Yahudi berpuasa Asyura, kemudian Nabi bertanya dan memerintahkan untuk berpuasa maka bisa jadi hal tersebut tujuannya untuk meluluhkan hatinya orang-orang Yahudi sebagaimana Nabi meluluhkan hati mereka dalam masalah kiblat mereka, dan bisa jadi karena hal lainnya. Namun intinya, Nabi SAW berpuasa hari Asyuro bukan sebab dimulai oleh umat Yahudi dan kaum Qurais, karena sebelumnya nabi sudah berpuasa Asyuro dan waktu itu adalah waktu disukainya mencocoki ahlul kitab dalam hal-hal yang tidak dilarang”.

Baca juga:  Suara Vintage Ini, Bikin Coach Anggun dan Titi Bersaing Sengit

Nabi Muhammad kemudian memerintahkan umat Islam untuk berpuasa pada hari itu; siapa yang sudah makan, maka bisa berpuasa pada sisa hari itu dan siapa yang belum hendaklah berpuasa –jangan makan. Agar tidak menyamai syariat umat Yahudi tersebut, Nabi Muhammad juga memerintahkan untuk berpuasa pada tanggal 9 (hari Tasu’a) dan 11 Muharram sesuai hadits riwayat Ahmad di atas.

Perintah tersebut disampaikan Nabi Muhammad pada awal tahun kedua beliau tinggal di Madinah. Nabi tiba di Madinah pada bulan Rabiu’ul Awwal. Tujuh bulan setelahnya, atau 18 bulan setelah tinggal di Madinah, Nabi Muhammad menerima wahyu tentang perintah puasa Ramadhan. Dengan demikian, puasa Asyura dilaksanakan sebagai puasa wajib hanya satu kali saja.

Setelah turunnya surat Al-Baqarah ayat 183, maka Nabi Muhammad tidak lagi mewajibkan puasa Asyura bagi umat Islam. Mereka boleh berpuasa Asyura dan tidak berpuasa juga boleh. Namun demikian, Nabi Muhammad sangat mengajurkan berpuasa Asyura. Hal ini bisa dilihat dari hadits riwayat Ibnu Abbas. “Saya tidak mengetahui Rasulullah SAW bersungguh-sungguh untuk berpuasa kecuali pada hari ini, yakni hari Asyura,” kata Ibnu Abbas.

Sedangkan keutamaan puasa Asyura, dijelaskan dalam Hadis yang diriwayatkan Abu Qatadah RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Puasa hari Arafah dapat menghapuskan dosa dua tahun yang telah lepas dan akan datang, dan puasa Asyura (tanggal 10 Muharram) menghapuskan dosa setahun yang lepas,” (HR Muslim).

Baca juga:  Rewind & Replay Sheila on7, Segera Dapatin Tiketnya

Tata cara melakukan Puasa Asyura

1. Mengiringi puasa Asyura dengan puasa sehari sebelumnya dan sehari sesudahnya. Jadi puasa tiga hari yaitu tanggal 9, 10 dan 11 Muharrom. Inilah yang paling sempurna. DR Said bin Ali Al-Qohthoni dalam kitab As-Shiyam fil Islam halaman 364 mendukung cara pertama ini dengan beberapa argumen berikut:

Sebagai kehati-hatian. Karena bulan Dzulhijjah bisa 29 atau 30 hari. Apabila tidak diketahui penetapan awal bulan dengan tepat, maka berpuasa pada tanggal 11-nya akan dapat memastikan bahwa seseorang mendapati puasa Tasu’a (tanggal 9) dan puasa ‘Asyura (tanggal 10).

Dia akan mendapat pahala puasa tiga hari dalam sebulan, sehingga baginya pahala puasa sebulan penuh (sesuai hadits riwayat Muslim 1162).

Dia akan berpuasa tiga hari pada bulan Muharrom yang mana nabi telah mengatakan: “Puasa yang paling afdhol setelah puasa Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah Al-Muharram” (HR. Muslim 1163).

Tercapai tujuan dalam menyelisihi orang Yahudi, tidak hanya puasa ‘Asyura, akan tetapi menyertakan hari lainnya juga (Fathul Bari 4/245, Syarah Riyadhus Shalihin, Ibnu Utsaimin 5/305).

2. Berpuasa pada tanggal 9 dan 10 Muharram (puasa Tasu’a dan Asyura), sesuai dengan petunjuk dalam banyak hadits Nabi SAW.

3. Berpuasa pada hari Asyura tanggal 10 Muharram saja. Wallahu Ta’ala A’lam

Sementara bacaan niat puasa Asyura yang dilaksanakan pada tanggal 10 Muharram, adalah sebagai berikut:

Baca juga:  Juri Kembali Tak Gunakan Hak Veto, Ayu Tersingkir dari Indonesian Idol

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ ِعَا شُورَاء لِلهِ تَعَالَى

Bacanya: Nawaitu shauma ghadin ‘an adâ’i sunnatil âsyûrâ lillâhi ta‘âlâ.

Artinya: Aku berniat puasa sunah Asyura esok hari karena Allah SWT.