Ketik pencarian Anda

MNC Media MNC Terkini

Rumah Sejuk Tanpa Pendingin Ruangan, Ini Caranya

Foto : Freepik

JAKARTA – Cuaca panas rasanya ingin berada di rumah seharian dan malas untuk beraktivitas di luar ruang. Apalagi, saat musim kemarau seperti sekarang ini. Di mana, pancaran sinar matahari terasa menyengat ke kulit kita.

Namun, apa jadinya jika suhu udara di rumah juga terasa panas. Gerah dan keringatan terus.

Sebagian orang yang berduit, mungkin akan memasang pendingin ruangan (AC). Bahkan, dua pertiga rumah tangga di seluruh dunia diprediksi akan memiliki pendingin ruangan pada 2050 dan akan meningkatkan kebutuhan energi hingga tiga kali lipat.

Padahal, semakin banyaknya penggunaan pendingin ruangan, justeru akan menyumbangkan emisi gas rumah kaca dan berkontribusi pada pemanasan global. Hal ini berarti musim panas akan menjadi semakin panas.

Karena itu, bagi anda yang tengah merencanakan untuk membangun rumah, ada baiknya memperhatikan tips di bawah ini.

1. Jendela dan tirai

Salah satu cara paling mudah untuk menjaga udara panas keluar sebenarnya adalah dengan insulasi yang baik dan penempatan jendela yang tepat. Pelindung rumah seperti atap miring dan kisi-kisi jendela sangat efektif ketika musim panas.

Meski demikian, akan sulit untuk memasang naungan pada jendela-jendela yang dipasang menghadap ke timur dan barat. Hal ini disebabkan oleh pemakaian tirai gulung ataupun gorden hanya akan menutup pemandangan dan mencegah cahaya masuk. Seandainya dipasang di dalam rumah, maka panas akan masuk ke dalam ruangan. Sehingga banyak yang memilih memasang di luar rumah, seperti bangunan-bangunan tua di Prancis dan Italia.

Baca juga:  MNC Group Rayakan Ultah ke-30: Semoga Sukses, Jaya, dan Semakin Unch!

2. Cat dan lapisan cat

Atap rumah yang dicat dengan menggunakan pigmen spesial dapat memantulkan radiasi dari Matahari, tidak hanya sekadar cahaya yang terlihat tapi juga hingga sinar infra merah. Hal ini dapat menurunkan suhu udara hingga lebih dari 10°C dibandingkan dengan cat biasa. Berikutnya, lapisan cat terbuat dari bahan yang sudah diseleksi untuk jendela juga menjaga panas Matahari di luar ruangan, tapi cahaya dapat masuk.

Ada juga pelapisan fotokromik, yang berubah tergantung pada intensitas cahaya yang masuk, mirip seperti kacamata hitam. Pelapisan termokromik akan bertambah gelap saat udara panas. Sementara, cat termokromik bisa menyerap cahaya dan panas saat udara dingin dan memantulkan kembali saat udara panas, sedang dikembangkan.

3. Bahan bangunan

Bangunan yang terbuat dari batu, batubata atau beton atau dibangun di atas tanah terasa lebih dingin karena tingginya “massa termal” dari bahan-bahan tersebut. Massa termal adalah kemampuan bahan bangunan untuk menyerap dan melepaskan panas secara perlahan, sehingga bisa mendapatkan suhu sejuk di pagi hari dan hangat di malam hari. Jika Anda pernah mengunjungi gereja batu saat musim panas di Italia, Anda mungkin akan merasakan dingin dalam ruangan.

Sayangnya, bangunan modern menghasilkan lebih sedikit massa termal atau bahan-bahan yang memiliki massa termal yang tinggi malah tertutup oleh papan atau karpet. Kayu juga semakin banyak digunakan dalam kontruksi bangunan. Namun, meskipun bangunan terbuat dari bahan kayu umumnya memiliki dampak lingkungan yang lebih kecil, massa termal yang dihasilkan sangatlah buruk.

Baca juga:  Bagikan Kacamata Gratis, MNC Peduli Ajak Siswa Bantargebang Jaga Kesehatan Mata

4. Hibrid dan bahan perubahan fasa (PCM)

Mencampurkan bahan kayu dengan beton diyakini dapat membantu mengurangi dampak lingkungan, sekaligus menyediakan massa termal yang diinginkan. Solusi lainnya, Bahan Perubahan Fasa atau disebut sebagai PCM yang dapat menyimpan dan melepaskan energi dalam bentuk panas laten. Jadi, saat dingin, substansi tersebut berubah menjadi bahan padat (membeku) dan melepaskan panas. Ketika menjadi cairan kembali, bahan tersebut menyerap panas dan memberikan efek pendinginan.

PCM memiliki massa termal yang lebih besar daripada batu dan beton. Berdasarkanpenelitian, bahan dapat menurunkan suhu internal sampai dengan 5°C. Jika diaplikasikan pada bangunan dengan pendingin ruangan, maka dapat menurunkan konsumsi penggunaan listrik hingga 30%.

5. Penguapan air

Air dapat menyerap panas dan menguap. Saat uap air yang panas naik, maka akan mendorong udara dingin ke bawah. Fenomena sederhana ini menjadi dasar pengembangan sistem pendinginan, yaitu menggunakan air dan ventilasi alami untuk mengurangi suhu dalam ruangan. Teknik yang digunakan untuk penguapan air antara lain semprotan, pipa semprot otomatis (untuk membuat kabut), bantalan yang lembab atau material berpori seperti alat penguapan terbuat dari keramik yang berisi air. Sistem ini akan efektif selama udara cenderung kering dan dikontrol secara baik. Beberapa laporan menyatakan bahwa sistem ini bisa menurunkan suhu 14°C hingga 16°C di beberapa bangunan.