Ketik pencarian Anda

Editor's Choice

Risiko Kematian Meningkat Karena “Mager”

Di saat waktu luang, sebagian kita terbiasa menghabiskannya dengan tidur-tiduran atau duduk-duduk ketimbang harus berolahraga. Padahal, semakin rutin kita berolahraga dan mengatur asupan makanan, semakin tinggi pula angka kesehatan.

Menurut data Badan Kesehatan Dunia WHO ada lebih dari seperempat orang di dunia kurang melakukan olahraga. Temuan ini tak jauh berbeda dari hasil penelitian yang telah dikeluarkan WHO pada 2001 lalu.

Gaya hidup yang bermalas-malasan seperti itu kita kenal dengan nama gaya hidup mager atau malas gerak. Gaya hidup mager ini bisa berakibat terkena penyakit mematikan seperti diabetes tipe dua, beberapa jenis kanker, dan masalah kardiovaskular lainnya.

Dilansir dari Okezone.com dari BBC, Kamis (6/9/2018), penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Lancet Public menjelaskan, jumlah penduduk yang malas gerak di negara berpendapatan tinggi meningkat dari 32 persen pada 2001 menjadi 37 persen pada 2016. Sementara, di negara dengan pendapatan rendah, angkanya tetap stabil yaitu 16 persen.

Perbedaan sangat terlihat di kawasan Asia Selatan, Asia Tengah, Timur Tengah, Afrika Utara dan negara maju di Barat. Peneliti mengatakan, beberapa faktor yang menyebabkan fenomena malas gerak ini adalah menjaga anak seharian serta perilaku budaya yang membuat mereka semakin sulit untuk bergerak.

Sedangkan, di negara berpenghasilan tinggi, faktor utamanya adalah pekerjaan yang santai, hobi serta penggunaan kendaraan motor yang masif. Laporan ini menjadi perhatian karena pada 2025 WHO menargetkan penurunan masyarakat kurang gerak hingga 10 persen.

Baca juga:  5 Manfaat Minum Air dan Madu Setiap Pagi

“Rata-rata, dan seperempat orang dewasa tidak melakukan gerak sesuai rekomendasi demi kebaikan kesehatan. Regional yang levelnya meningkat menjadi perhatian yang besar bagi kesehatan publik,” kata Kepala Peneliti dari WHO Dr Regina Guthold.*

Tags:
Andini Anissa

MNC Update Writer

    1