Ketik pencarian Anda

MNC Media MNC Terkini

Perempuan Indonesia di Industri Kreatif dan Animasi

JAKARTA – Saat ini,  sudah tak asing jika perempuan-perempuan mengambil bagian di berbagai sektor dan industri. Mulai dari politik, jurnalistik, pemerintahan hingga industri kreatif yang saat ini digenjot di Indonesia.

CEO MNC Animation Liliana Tanoesoedibjo mengatakan, walaupun sektor industri ini masih lebih banyak dikerjakan laki-laki, tetapi ada juga  peran penting perempuan di balik lahirnya serial animasi untuk anak-anak yang tayang di televisi, salah satunya Kiko.

Salah satunya adalah Tirza Angelica. Sebagai animator di MNC Animation, ia menceritakan awal karirnya yang berangkat dari rasa sukanya akan animasi dan bergegas meraih cita-citanya hingga sekolah ke Malaysia pada 1998, serta Kanada. Berbekal pendidikan dan skill, kini ia menjadi animator supervisor Kiko MNC Animation.

Sebagai perempuan yang berprofesi menjadi animator, tak jarang ia berhadapan dengan tantangan yang mesti dihadapi. “Tenaga dan waktu kerjanya yang lumayan berat, dan itu adalah challenge paling besar,” kata Tirza saat ditemui media di kantor MNC Animation, Kebon Jeruk, Jakarta, pekan lalu.

Namun, ia menganggap itu adalah bagian dari pekerjaan dan profesinya sebagai animator untuk serial animasi yang tayang setiap hari. “Sebagai animator itu harus kerja keras, memiliki skill yang mumpuni, passion di bidang ini, dan tak berhenti berusaha,” ucapnya.

Selain Tirza, Scriptwriter program animasi KIKO & Titus MNC Animation, Lutfiana Abdullah mengungkapkan berbagai tantangan bekerja di industri kreatif dan animasi. Sesuai job desk-nya, ia harus mencari ide pokok, log line, hingga sinopsis untuk divisualkan menjadi gambar animasi.

Baca juga:  Tips Minimalkan Resiko Cidera Saat Gempa

“Tantangannya itu kita harus mencari, menggali ide, dan membuat cerita lebih bisa divisualkan karena ini animasi, berbeda dengan membuat skenario untuk sinetron atau film. Dan sebagai perempuan, tantangan yang lain itu menjaga mood,” kata Luthfi.

“Bagaimana menjaga mood agar hasil tulisan tetap oke dan terpenting harus mau dikritik, jangan baperan kalau dikritik,” ujarnya.

Proses kerja scriptwriter animasi pun lebih lama timbang film atau sinetron. Menurut Lutfi, dirinya bisa membutuhkan waktu satu bulan hanya untuk membuat skrip sepanjang 15 halaman.

Kemudian ada dua perempuan yang memegang jabatan kece di industri kreatif, yakni sutradara animasi. Mereka adalah Dezi Ruwah Rezeki dan Sally Wongso yang masing-masing menjabat sebagai Director KIKO & Titus. “Kami menjaga kualitas produksi agar sesuai dengan jalan cerita dan tidak melenceng dari storyboard,” kata Dezi.

Saking kerennya profesi ini, bahkan bisa dibilang sangat langka perempuan yang menjadi sutradara animasi di Indonesia. “Kalau kita enggak mulai siapa lagi?” ujar Sally singkat. Sementara itu tantangannya hampir sama dengan si script writer, yaitu menjaga mood.

Terakhir, ada Dewi Rosma Aswati, perempuan satu ini berprofesi sebagai Producers Kiko MNC Animation yang mengepalai 89 orang untuk memonitor dan menjaga hasil produksi. Tak mudah memimpin 89 orang yang bekerja di bidang kreatif, ada susah senang yang dialaminya. Apalagi ia tak hanya memimpin perempuan, tetapi juga pria yang tak jarang usianya lebih senior. “Bekalnya itu skill komunikasi yang harus jalan dan tegas,” kata Dewi.* (iNews)

Tags: