Ketik pencarian Anda

Editor's Choice

Memperingati Hardiknas, Mengenang Ki Hajar Dewantara

iNews.id – Hari ini, 2 Mei 2018, Indonesia kembali memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas). Peringatan tersebut mulai mendapat pengakuan sejak enam dekade silam, tepatnya ketika pemerintah menetapkannya sebagai hari besar nasional melalui Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 316 pada 16 Desember 1959.

Meski masuk daftar hari besar nasional, Hardiknas bukanlah hari libur. Kendati demikian, dia tetap diperingati secara luas oleh masyarakat Indonesia, terutama insan-insan yang berkecimpung di dunia pendidikan. Mungkin banyak yang lupa, mengapa 2 Mei ditetapkan sebagai Hardiknas? Apa alasan pemerintah memilih tanggal tersebut?

Hardiknas sejatinya diambil dari hari lahir Ki Hajar Dewantara—yang dinobatkan sebagai salah satu tokoh pendidikan paling berpengaruh di Indonesia. Ki Hajar lahir di Pakualaman, Yogyakarta, 2 Mei 1889, dengan nama Raden Mas Soewardi Soerjaningrat. Di dalam dirinya mengalir darah bangsawan Jawa dari sang ayah, Gusti Pangeran Haryo (GPH) Soerjaningrat, dan kakeknya, Pakualam III.

Walaupun, terlahir dari keluarga bangsawan, Soewardi kecil banyak bergaul dengan anak-anak kaum jelata—yang pada masa itu lebih populer dengan sebutan inlander. Masa kanak-kanak dan remajanya kerap dihabiskan di luar lingkungan Keraton (Istana) Pakualaman.

Pada 1904, Soewardi menamatkan pendidikan dasarnya di ELS (Europeesch Lagere School), sekolah rendah yang didirikan pemerintah Hindia Belanda khusus untuk anak-anak keturunan Eropa dan bangsawan pribumi. Kemudian, dia hijrah ke Batavia (Jakarta) untuk melanjutkan studi ke STOVIA, sekolah dokter yang didirikan khusus untuk kaum bumiputra. Namun, dia tidak sampai menamatkan pendidikannya di sekolah medis itu karena sakit.

Baca juga:  VIRAL! Air Mancur dari Langit Gegerkan Warga Wonogiri

Di masa mudanya, Soewardi tercatat pernah menekuni profesi jurnalis di beberapa surat kabar, antara lain De Express dan Persatoean Hindia. “Sebagai wartawan, dia (Soewardi) acap kali melakukan kritik terhadap pemerintah Belanda,” ungkap Ahmad Nashih Lutfi dan kawan-kawan dalam buku Keistimewaan Yogyakarta: yang Diingat dan yang Dilupakan (2009).

Di dunia jurnalistik, Soewardi sejak awal menempatkan diri di jalur pergerakan yang radikal. Kritik pedasnya yang monumental dituangkan dalam satu tulisan berjudul Als Ik Nederlandsche Was (Andai Aku Seorang Belanda). Isi artikel tersebut kurang lebih mengkritik kebijakan pemerintah kolonial yang hendak menyelenggarakan pesta perayaan 100 tahun lepasnya Belanda dari cengkraman Prancis dengan menarik iuran dari rakyat tanah jajahan yang miskin. Tulisan itu pula yang kelak menjadi dalih pemerintah Belanda menangkap Soewardi.

Setelah menjalani proses peradilan pada 18 Agustus 1913, Soewardi akhirnya memilih menjalani hukuman pengasingan di negeri Belanda. Pertimbangannya pada waktu itu, di Belanda dia dapat lebih banyak belajar mengenai politik dan pergerakan melalui orang-orang dan organisasi di negeri kincir angin. Ternyata, minatnya terhadap dunia pendidikan justru muncul ketika menjalani hukuman di Belanda itu.

Selama masa pembuangannya di Eropa, Soewardi terus berkorespondensi dengan teman-temannya di Sarekat Islam (SI) maupun Indische Partij (IP)—yang kemudian hari digantikan oleh Insulinde. Dari mereka itulah, dia memperoleh secara rutin informasi mengenai perkembangan situasi politik di Tanah Air.

Baca juga:  3 Finalis Miss Indonesia Ini adalah Calon Dokter

Sambil aktif mengikuti kursus politik dan kegiatan organisasi, Soewardi mengambil pendidikan akta mengajar. Sekembalinya ke Tanah Air, dia lebih memusatkan diri kepada dunia pendidikan dengan mendirikan perguruan Taman Siswa pada 3 Juli 1922. Lembaga pendidikan tersebut bersifat nasional dengan memadukan unsur-unsur seni, budaya, dan budi pekerti.

“Kehadiran Taman Siswa ketika itu sekaligus menjadi jawaban bagi kebutuhan sekolah umum nonkeagamaan yang bisa diakses oleh semua lapisan masyarakat,” ucap Luthfi.

Pada 23 Februari 1928, Soewardi mengganti namanya menjadi Ki Hajar Dewantara. Dengan menanggalkan gelar kebangsawanan yang telah didapatnya sejak lahir, Soewardi ingin merasa lebih dekat dengan rakyat jelata, baik secara lahir maupun batin.

Pada 1 Oktober 1932, pemerintah kolonial Belanda mengeluarkan regluasi berupa Wilde School Ordonantie (Peraturan Pemerintah tentang Pengendalian Sekolah Liar). Ki Hajar langsung menentang keras keputusan tersebut karena dirasa merugikan dan membunuh sekolah-sekolah swasta yang bukan miliki pemerintah saat itu.

Akan tetapi, pemerintah Hindia Belanda tidak menggubris keberatan yang diajukan oleh Ki Hajar. Akibatnya, kondisi Taman Siswa ketika itu jadi sangat menyedihkan. “Banyak guru Taman Siswa yang diteror pemerintah kolonial, sampai-sampai mereka harus mengadakan kegiatan belajar mengajar di kandang kambing,” ungkap Sajoga dalam buku Tiga Puluh Tahun Taman Siswa.

Pada 1942, di masa penjajahan Jepang, Ki Hajar bersama Soekarno, Mohammad Hatta, dan KH Mas Mansyur diberi kedudukan sebagai pimpinan Pusat Tenaga Rakyat (PUTERA). Setahun kemudian, Ki Hajar diangkat menjadi anggota DPR, dia juga menjadi penasihat Departemen Pendidikan Pemerintah Pendudukan Jepang pada 1944.

Baca juga:  Hasi Liga Inggris Pekan 31: Man City Semakin Dekat Jadi Juara Liga

Menjelang kemerdekaan, Ki Hajar Dewantara tergabung dalam BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia). Setelah Proklamasi Kemerdekaan RI pada 17 Agustus 1945, Presiden Soekarno membentuk kabinetnya yang pertama. Ki Hajar ditunjuk menjadi Menteri Pengajaran, Pendidikan, dan Kebudayaan RI. Saat peristiwa Agresi Militer Belanda II berlangsung, Ki Hajar sempat ditangkap dan ditawan oleh tentara sekutu. Setelah itu, karier Ki Hajar pun kian mencorong. Dia menjadi anggota parlemen, kemudian anggota DPR Sementara RI pada masa RIS.

Atas jasa-jasanya kepada negara, pemerintah menganugerahkan penghargaan dengan menetapkan Ki Hajar Dewantara sebagai perintis kemerdekaan. Dia juga mendapat gelar doktor honoris causa dari Universitas Gadjah Mada (UGM) pada 1956. Perjalanan panjang dan perjuangan dengan gemilang telah dilalui, sampai akhirnya, 26 April 1959, Bapak Pendidikan ini menghembuskan nafas terakhir menghadap Sang Pencipta.***

(iNews)

Ahmad Islamy Jamil

Tags: