Ketik pencarian Anda

Editor's Choice

Mau Tukar Uang untuk Idul Fitri, Bolehkah?

Foto: Pinterest

Jelang Idul Fitri nanti, banyak orang yang menawarkan jasa penukaran uang, baik di tepi jalan maupun tempat-tempat tertentu. Ini berguna untuk menukarkan THR ke dalam pecahan lebih kecil, sebagai angpao lebaran. Penyedia jasa penukaran uang ini sangat membantu, sebab pelanggan tak perlu repot mengantre di bank. Tetapi dalam perkembangannya, praktik ini ternyata menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Seperti apa sih perdebatannya, Updaters?

Menurut Ustadz Najmi Fathoni, praktik jasa penukuran uang sangat erat kaitannya dengan hukum riba. Apalagi, kalau harganya dilebihkan dari nominal uang yang hendak ditukarkan konsumen “Melebihkan tarif uang yang ditukar itu jelas tidak boleh. Misalnya ada yang tukar uang Rp1 juta tapi sang penyedia jasa meminta bayaran Rp1,1 juta. Ini jelas hukumnya riba karena bentuk bendanya sama. Sama-sama uang,” tegas Najmi saat dihubungi Okezone, Senin (13/5/2019).

Lain halnya jika seseorang meminta tolong kepada penyedia jasa untuk menukarkan uang, dan setelah selesai ia memberi sejumlah uang sebagai ungkapan terima kasih. Hal tersebut justru lebih baik, karena uang ‘tambahannya’ dipisahkan dari akadnya.

Seperti keterangan dari Abu Said al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah SAW bersabda,

الذَّهَبُ بِالذَّهَبِ وَالْفِضَّةُ بِالْفِضَّةِ وَالْبُرُّ بِالْبُرِّ وَالشَّعِيرُ بِالشَّعِيرِ وَالتَّمْرُ بِالتَّمْرِ وَالْمِلْحُ بِالْمِلْحِ مِثْلاً بِمِثْلٍ يَدًا بِيَدٍ فَمَنْ زَادَ أَوِ اسْتَزَادَ فَقَدْ أَرْبَى الآخِذُ وَالْمُعْطِى فِيهِ سَوَاءٌ

Baca juga:  Olahraga Lompat Tali Efektif Bakar Kalori

“Jika emas ditukar dengan emas, perak ditukar dengan perak, gandum ditukar dengan gandum, sya’ir (gandum kasar) ditukar dengan sya’ir, kurma ditukar dengan kurma, dan garam ditukar dengan garam, takaran atau timbangan harus sama dan dibayar tunai. Siapa menambah atau meminta tambahan, maka ia telah melakukan transaksi riba. Baik yang mengambil maupun yang memberinya sama-sama berada dalam dosa.” (HR. Ahmad 11466 & Muslim 4148)

Pendapat lain ditemukan di laman Nahdlatul Ulama yang diakses pada Senin (13/5/2019). Praktik penukaran uang dapat dilihat dari dua sudut. Kalau yang dilihat dari praktik tersebut adalah uangnya, maka penukaran uang dengan kelebihan jumlah tertentu jelas haram karena masuk kategori riba.

Tetapi, kalau yang dilihat adalah jasa, maka praktik penukaran uang dengan kelebihan tertentu tergolong mubah. Sebab, praktik ini masuk kategori ijarah. Ijarah sebenarnya adalah sejenis jual-beli juga, hanya saja produknya adalah berupa jasa, bukan barang. Sebab ijarah sejenis jual beli, maka ia bukan termasuk kategori riba.

Tags: