Ketik pencarian Anda

MNC Media MNC Terkini

Masyarakat Diminta Terapkan Psysical Distancing. Apa Itu?

Foto: MNC Media

JAKARTA – Pemerintah Indonesia telah mengambil sejumlah kebijakan guna mencegah meluasnya wabah virus corona (COVID-19). Salah satunya dengan cara menerapkan social distancing.

Namun, belakangan World Health Organization (WHO) lebih menganjurkan untuk melakukan physical distancing. Alasannya, yang dijaga adalah jarak fisik, bukan jarak sosial.

Lalu apa bedanya?

Dikutip dari Okezone.com, Selasa (24/3/2020) Dr Maria Van Kerkhove dari WHO mengungkapkan, pihaknya lebih memakai frasa physical distancing ketimbang social distancing.

Ia menuturkan, salah satu hal yang perlu disoroti dalam menjaga jarak fisik dari orang, tidak berarti bahwa secara sosial harus memutuskan hubungan dari orang yang kita cintai, yaitu keluarga. Menurutnya, internet telah memudahkan orang, melalui berbagai media sosial untuk tetap terhubung.

“Karena kesehatan mental Anda, sama pentingnya dengan kesehatan fisik,” tutur dia.

Di kesempatan yang sama, Dr Michael Ryan menyebut physical distancing ini bukan tentang tanggung jawab pemerintah. Menurutnya, setiap individu harus membuat keputusan untuk melindungi diri sendiri dan melindungi orang lain.

“Kita seharusnya tidak harus menunggu pemerintah menyuruh kita melakukan itu. Ini tentang tanggung jawab pribadi,” katanya.

Sementara itu, pakar Sosiologi Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta Drajat Tri Kartono dalam tulisannya yang dimuat di iNews.id, Rabu (25/3/2020) mengatakan, istilah social distancing banyak diartikan menjaga jarak sosial. Social distancing sesungguhnya memiliki makna untuk memisahkan individu dari kerumunan, sehingga yang tadinya berkelompok mereka akan terpisah-pisah menjadi individu-individu.

Baca juga:  Waspada! BMKG Prediksi Iklim di Indonesia Kian Ekstrem

Dalam Ilmu Sosiologi terdapat istilah social distance yang biasa digunakan oleh sosiolog. Namun terdapat sedikit perbedaan makna. Social distance memiliki arti jarak sosial yang menekankan makna “sosial” menjadi “status sosial individu”.

“Sebagai contoh, antara kalangan ekonomi kelas atas dan bawah atau persahabatan antara dua orang,” tulisnya.

Merespon pernyataan WHO untuk menggunakan frasa physical distancing, menurutnya yang lebih penting pada situasi saat ini adalah memberikan sosialiasi dan edukasi kepada masyarakat agar menjaga jarak satu dengan yang lain. Dengan demikian penularan virus ini bisa terputus.

“Solidaritas menjadi hal penting untuk saat ini. Tim medis berupaya untuk mengobati, pemerintah berusaha melakukan pencegahan dengan berbagai kebijakan dan tindakan, masyarakat yang proaktif mendukung kebijakan,” pungkasnya.