Ketik pencarian Anda

MNC Media MNC Terkini

Kurangi Pencemaran Udara, Pemda DKI Bisa Lakukan Ini

Foto : Pixbay

JAKARTA – Kota Jakarta dalam beberapa hari terakhir dinobatkan sebagai pemilik sah udara terkotor di dunia. Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta terus memperbaiki polusi udara Ibu Kota.

Beberapa cara dilakukan seperti menanam lidah mertua. Bahkan, Pemda DKI juga tengah mengkaji pembatasan jumlah kendaraan bermotor.

“Ujungnya pada pengurangan yang menyangkut masalah lalu lintas,” kata Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan di Jakarta, Rabu (31 Juli 2019).

Anies mengaku, pihaknya telah menemukan sumber polusi terbesar di Ibu Kota yakni berada di kawasan Jakarta Selatan. Menurut dia, meningkatnya aktivitas kendaraan berat terutama di kawasan Tol JORR dan sekitarnya menyebabkan sumbangan terbesar pada polusi di Ibu Kota.

“Ada semua (riset)nya nanti. Cuma saya enggak umumin sebagian-sebagian. Nanti kalau sudah lengkap semuanya baru diumumkan,” kata Anies.

Pada Rabu (31/7/2019), udara Jakarta tercatat di angka 155 dengan konsentrasi parameter PM2.5 sebesar 63,5 ug/m3. Dari beberapa wilayah di DKI Jakarta, Rawamangun, Jakarta Timur, tercatat paling buruk. Merujuk laman resmi AirVisual, kualitas udara Rawamangun berada di angka 166 dengan konsentrasi parameter PM2.5 sebesar 85,1 ug/m3.

Sementara itu, Kepala Balai Besar Teknologi Modifikasi Cuaca BPPT Tri Handoko Seto sepakat bahwa salah satu sumber polusi udara di Jakarta yakni asap kendaraan bermotor. Untuk menguranginya, dia mendorong agar Pemprov DKI terus menggalakkan moda transportasi massal.

Baca juga:  Tantangan Satu Malam Bantu Keluarga Gembala Kambing

Selain itu, salah satu metode untuk mengurangi polusi udara adalah melalui penghijauan. Semakin banyak pepohonan yang mampu menyerap karbondioksida akan semakin baik.

“Tumbuh-tumbuhan akan menjadi faktor pembersih. Bukan sekadar tumbuhan lidah buaya, lidah mertua, lidah keponakan, dan seterusnya, tapi tumbuh-tumbuhan yang punya kemampuan tinggi untuk menyerap karbon,” ungkap Seto.

Terkait hal itu, dia pun menyarankan kepada pemerintah untuk melakukan gerakan agar gedung-gedung tinggi di Jakarta diimbangi dengan penanaman pohon besar di sekelilingnya. Hal ini dilakukan guna menangkap polutan di langit Jakarta.

Selain memiliki tumbuhan dengan ukuran besar, gedung-gedung tinggi di Jakarta juga diharapkan memiliki air mancur untuk membersihkan udara yang tercemar. Air mancur dapat berperang di sirkulasi udara sehingga dapat membantu mengurangi polusi.

Selain cara di atas, menurut Seto, ada metode lain untuk membersihkan polusi udara Jakarta yakni dengan hujan buatan. Namun, cara ini membutuhkan biaya yang besar. Harus ada juga awan terkumpul.

Seto menuturkan, polusi saat ini juga dipengaruhi ketiadaan hujan. Ketika hujan tiba, air akan membersihkan udara secara berlipat. Ketika kemarau tiba, tidak faktor pembersih yang tersedia.

“Kalau masih ada awan masih bisa digunakan teknologi modifikasi cuaca kemudian juga teknologi modifikasi cuaca bisa membongkar lapisan stabil tadi menjadi tidak stabil sehingga ruang atmosfer semakin banyak,” kata dia.