Ketik pencarian Anda

Chairman Bersyukur di HUT MNC Group ke-29

November 5, 2018

Hary Tanoe Ajak Masyarakat Terus Bantu Korban Bencana Sulteng

October 10, 2018

Peduli dan Berkomitmen Tinggi, MNC Group Raih 4 Penghargaan Top CSR 2018

October 5, 2018

Kunjungi MNC Media, Presiden Jokowi Disambut Jajaran Redaksi

October 30, 2018

David Fernando Audy

 

PT MEDIA NUSANTARA CITRA TBK TERUS BERINOVASI DARI SISI CONTENT PRODUCTION MAUPUN TV ADVERTISING SALES DALAM MENGHADAPI KETATNYA PERSAINGAN BISNIS DI INDONESIA. SELAIN ITU, BERBAGAI KEMAJUAN TEKNOLOGI INTERNET YANG TERUS BERKEMBANG JUGA MERUPAKAN TANTANGAN TERSENDIRI BAGI MNC UNTUK MEMAKSIMALKAN BERBAGAI KESEMPATAN BISNIS DI ERA DIGITAL.

Saat ini 95-98% pendapatan MNC Group berasal dari iklan TV di RCTI, MNCTV, GlobalTV dan iNewsTV. Potensi Iklan TV di Indonesia masih sangat besar dan terus bertumbuh. “Selain iklan TV, banyak peluang lain di era digital yang bisa dimaksimalkan, kuncinya adalah persiapan” jelas CEO PT MNC Tbk. David Fernando Audy atau yang lebih sering dipanggil David Audy.

Menurut David Audy, walaupun kerap kali iklan TV disebut iklan yang paling mahal dibanding media lainnya, perolehan iklan layar kaca masih memiliki ruang untuk tumbuh yang besar. “Tim sales kita harus berani menaikkan harga rate card. Saya percaya prospeknya akan cerah karena jumlah televisi tetap 10, sedangkan pengiklan semakin banyak dan industri FMCG di tanah air terus bertumbuh pesat,” ungkapnya.

Menaikkan rate card sebagai upaya untuk meningkatkan pendapatan total dan meningkatkan pro tability adalah langkah yang sangat realistis mengingat rate card di Indonesia masih sangat rendah dibandingkan dengan Negara-negara lain di Asia Tenggara. “Rate card rata rata industri TV di Indonesia masih sekitar Rp50—60 juta per spot pada prime time.

Bandingkan dengan Filipina yang sudah mencapai Rp180 juta dan Thailand sekitar Rp120 juta. Bahkan di Singapura sampai sekitar Rp400 juta. Padahal, Singapura jauh lebih kecil dari Indonesia dengan penduduk hanya sekitar 4 juta jiwa. Sementara Indonesia memiliki kira kira 260 juta jiwa. Banyak produk-produk yang sama beriklan di Indonesia dan Singapura, tetapi pasar Indonesia jauh lebih besar, tetapi mereka membayar iklan jauh lebih kecil dibanding Singapura” terangnya.

Selain itu, MNC juga membentuk MNC Marketing Integrated (MMI), yakni unit bisnis yang menjual inventory iklan yang idle dan memaksimalkan virtual ads di TV grup. “Virtual ads ini kita built-in ke dalam content secara virtual. Jadi kita bisa memaksimalkan penerimaan iklan bukan hanya dari TVC biasa, tetapi juga dari content atau istilahnya disini, iklan non-inventory consuming,” tandasnya.

Langkah strategis yang juga tidak kalah penting adalah mempertahankan perolehan audience share dan senantiasa menduduki peringkat terdepan. Saat ini, televisi-televisi komersial MNC Group menempati posisi audience share yang sangat kuat, yakni sekitar 44—48% pada jam prime time. “Audience share tertinggi masih ditempati RCTI. Kemudian disusul MNCTV dan GlobalTV. Kami juga bangga dengan iNewsTV yang menjadi TV news yang sangat berhasil. Hanya dalam kurun waktu satu tahun setelah diluncurkan, audience sharenya terus naik dan sudah mencapai rata rata 2-3%. Dalam hanya satu tahun, iNewsTV bahkan mampu menduduki peringkat ke 2 TV kategori news, mengungguli TV news lain yang sudah belasan tahun umurnya. Iklan pun sudah banyak yang masuk ke iNewsTV dan perusahaan ini akan segera menjadi pro table,” tuturnya dengan bangga.

 

“Selama 14 tahun di MNC, saya bekerja di berbagai bidang, mulai dari sales iklan,programming, produksi, corporate finance. Selain itu saya mendapatkan pengalaman operasional di hampir semua platform media yang berbeda, mulai dari TV free-to-air, TV berlangganan, koran, radio, media agency, content licensing, content distribution, dan online news media. Sehingga saat ini, bisnis media lah yang paling saya mengerti “

Dengan potensi iklan yang terus meningkat, David Audy yakin bahwa televisi konvensional masih akan tumbuh. “Kita tetap akan fokus dalam mengelola dan mengembangkan televisi- televisi konvesional karena jaringan internet secara nasional belum maksimal dan mungkin juga sulit untuk maksimal. Secara geografis, Indonesia sangat luas; terdiri dari 18 ribu pulau. Dengan kondisi ini, siaran TV terrestrial free to air masih akan tetap dominan sampai kapan pun juga karena mampu menjangkau pemirsa secara nasional dengan sangat e sien. Berbeda dengan jaringan internet yang masih belum merata dan hanya di beberapa ibukota besar,” jelasnya.

Apa yang terjadi di Amerika bisa dilihat sebagai contoh. Di Negeri Paman Sam itu, teknologi internet begitu maju jika dibandingkan dengan negara lain. Namun bisnis televisi konvensional tetap nomor satu dalam hal perolehan iklan. “Perolehannya mencapai 36 persen dari total pangsa pasar iklan,” katanya.

Namun berbagai hal diatas tidak berarti MNC Tbk tidak memikirkan langkah-langkah strategi di era digital. Berbagai persiapan tengah ditempuh, di antaranya, dengan melakukan monetize content yang sudah tayang di televisi MNC Group untuk kemudian didistribusikan melalui internet. Distribusi dilakukan baik melalui Over The Top (OTT) di bawah bendera MNC Group, yakni Moviebay dan MeTube, maupun menjualnya kepada perusahaan OTT lainnya seperti Iflix dan Hooq serta menjalin kerja sama sebagai YouTube partner.

“Kita mempunyai channel di YouTube selain OTT yang kita buat sendiri, yaitu MeTube dan Moviebay. Jadi, content yang kita produksi dan sudah ditayangkan di televisi bisa dimonetize kembali untuk memaksimalkan pendapatan dari iklan digital,” katanya.

Memang masih dibutuhkan proses yang panjang untuk memaksimalkan pendapatan melalui digital. Namun, MNC Group, dalam hal ini MNC Licensing, sudah melakukan berbagai persiapan, antara lain, dengan menyiapkan content library yang jumlahnya sangat besar. “Saat ini kita terus merapihkan content library dengan kategorisasi dan indexing. Kita juga mendigitalisasinya, untuk kemudian diupload ke server. Content library MNC jumlahnya 270,000 jam, dan setiap tahun kita memproduksi content baru sekitar 15,000 jam. Makanya ini pekerjaan yang cukup besar” tambahnya.

Sebagai CEO PT MNC Tbk, David Audy terus mengamati dinamika industri media yang terjadi di Indonesia maupun global dari waktu ke waktu. Sebelum akhirnya menduduki jabatan sebagai CEO, beragam tugas pernah diemban pria berusia 37 tahun ini selama 14 tahun bergabung dengan MNC Group. “Saya lulusan finance – accounting.

Tapi setelah beberapa tahun masuk ke MNC, saya mulai masuk ke operasional, programming, produksi, sampai juga jualan iklan sendiri. Bekerja di bisnis media sangat menarik. Tidak pernah membosankan karena setiap hari selalu saja ada hal yang baru dan menantang,” ungkap pria yang memperoleh gelar Master of Professional Accounting & Finance dari Universtity of New South Wales, Australia, ini.

David Audy mengawali kariernya sebagai Corporate Finance-Accounting. Kemudian pernah menjadi Personal Assistance Chairman and CEO MNC Group, Hary Tanoesoedibjo. Dari Bapak Hary lah, ia belajar banyak hal. “Saya banyak belajar dari beliau tentang ghtingspirit, dicipline, hardworking, dan juga do the right thing, bukan do things right. Itu yang selalu beliau ajarkan. Saya juga banyak belajar tentang bagaimana beliau mengambil keputusan dan memimpin organisasi yang besar,” tuturnya. MNC di bawah kepempinan Bapak Hary memiliki karakter sebagai perusahaan yang mengedapankan vision, quality, speed, hardwork, dan progressive.

 

PEMIMPIN TIDAK BOLEH SOMBONG

Menurut David Audy, banyak hal yang harus dilakukan seorang pemimpin. Salah satunya adalah tidak boleh sombong. Jika sudah sombong, seorang pemimpin akan merasa paling hebat dan paling pintar, sehingga berhenti untuk belajar. “Jangan jadi sombong. Jangan berpikir kita sudah

paling atas karena diatas langit selalu ada langit lagi yang lebih tinggi. When you think that you are on the top, that is the time you will start to go down. Jadi, kalau kita berpikir sudah di atas, artinya sudah mentok dan siap untuk jatuh,” kata pria yang mengaku banyak belajar arti tanggung jawab dan kejujuran dari kedua orang tuanya ini.

David Audy sangat mengapresiasi para karyawan yang selalu berpikir positif. “Memang di perusahaan di mana pun selalu ada ada dua tipe karyawan: yang negatif dan positif. Tipe karyawan yang negatif itu sangat berbahaya karena bisa memberikan energi negatif yang bisa mempengaruhi orang-orang di sekitarnya sehingga menjadi negatif juga,” jelasnya.

Ia menyamakan tipe karyawan seperti ini dengan kelompok orang yang melihat air di dalam gelas dengan cara yang berbeda. Karyawan yang berpikir positif akan melihatnya sebagai gelas yang separuh penuh. Sementara yang berpikir negatif melihatnya sebagai gelas separuh kosong. “Jadi, sebenarnya semua hal yang terjadi terhadap kita di tempat kerja atau kehidupan pribadi itu tergantung pada bagaimana mindset kita melihat dan menyikapinya. Nah, mindset itu akan mempengaruhi kita. Saya bersyukur bahwa di MNC ini, mayoritas karyawannya berpikir positif. Itu sebabnya MNC bisa maju karena lingkungannya positif. Semua karyawan rata rata positif dan ingin maju,” katanya.

More Stories