Ketik pencarian Anda

MNC Media MNC Terkini

Bahaya Child Grooming, Apa dan Bagaimana Antisipasinya?

Foto : MNC Media

JAKARTA – Child grooming adalah istilah yang mengarah kepada kasus pelecehan seksual yang melibatkan anak. Targetnya adalah anak-anak usia 9 hingga 15 tahun. Ada pun alasan kedok kejahatan ini disebut sebagai grooming, lantaran pelakunya sendiri yang dengan bangga menobatkan dirinya sebagai seorang groomer.

Kejahatan seksual terhadap anak dan penyimpangan seksual sudah pernah terjadi sejak lama. Fenomena ini berkembang karena kehadiran teknologi informasi dan perkembangan teknologi 4.0 yang dianggap turut menyuburkan.

Kabag Penum Divisi Humas Mabes Polri Kombes Pol Asep Adi Saputra mengungkapkan, jika di masa lalu kejahatan terhadap anak dan penyimpangan seksual terjadi secara fisik atau bersentuhan secara langsung, sekarang berbeda. “Kalau sekarang kan tidak seperti itu. Dengan media sosial tidak perlu bersentuhan sudah terjadi kejahatan itu,” kata dia dalam diskusi Polemik MNC Trijaya Network bertajuk ‘Child Grooming & Darurat LGBT’ di Jakarta, Sabtu (3 Agustus 2019).

Pola asuh dan pendidikan yang baik di keluarga akan menjadi benteng untuk mencegah anak menjadi korban child grooming. Karena itu, Asep mengingatkan agar para orangtua memberikan perhatian kepada anak. Dalam hal pendidikan, iman dan takwa harus ditekankan.

“Karena itu menjadi sebuah benteng yang sangat kuat,” kata Asep.

Sementara itu, Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Sitti Hikmawati mengatakan, Indonesia saat ini dalam kondisi darurat terhadap kekerasan seksual anak. Hal ini bisa diatasi apabila orangtua mau berperan aktif mengetahui perkembangan anaknya.

Baca juga:  Team Titi DJ Siap Manggung di Grand Final The Voice Indonesia

“Di dalam pengasuhan para orangtua wajib untuk mau sedikit lebih bersusah payah mengetahui pola asuh yang baik dan pola pendampingan untuk anak yang baik dan benar,” kata Sitti, membagi tips.

Pakar psikologi Muhammad Iqbal menyampaikan hal senada. Dia meminta kepada para orang tua tidak hanya menitikberatkan prestasi bidang akademik sang anak, tetapi juga pendidikan akhlak. Selain itu perlu dibangun hubungan erat antara orangtua dengan anak.

“Ini penting sekali, karena yang dilakukan para penjahat itu memakai teori passing and leading. Nah kenapa selama ini (kejahatan anak) sering terjadi, karena tidak dekat dengan hubungannya,” kata dia.

Iqbal menuturkan agar orangtua lebih bersabar dalam mendidik anak. Harus dibangun kedekatan sehingga anak akan sadar akan tanggung jawabnya.

”Bagi bapak-ibu yang menghadapi anak tidak bisa diatur, jangan buru-buru ‘pokoknya’. Buat hubungan dekat, kalau sudah dekat, apapun yang kita minta akan dituruti,” katanya.