Ketik pencarian Anda

MNC Media MNC Terkini

Antara Dieng dan Bromo, Kisah Salju yang Turun di Tanah Jawa

Foto : MNC Media

Jakarta – Fenomena salju di Indonesia kembali terjadi. Setelah dihebohkan dengan penampakan Dieng bersalju, embun es atau bun upas juga terjadi di Gunung Bromo, Kabupaten Probolinggo.

Fenomena ini ternyata menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan. Tak hanya mengundang penasaran, tapi justru menjadi wahana wisata. Malahan hal ini mendongkrak tingkat kunjungan wisatawan ke Bromo.

Para wisatawan ingin merasakan betapa dinginnya Bromo saat ini. Embun yang mengkristal akibat suhu yang sangat dingin itu terjadi di dataran landai seperti di Lautan Pasir, Pasir Berbisik, dan Bukit Savana.

Di titik-titik tersebut, wisatawan dapat menikmati embun es dengan leluasa. Selain kawasan Bromo, embun es juga dapat dinikmati di kawasan Gunung Semeru Lumajang, Jawa Timur. Fenomena yang terjadi karena suhu yang turun drastis itu biasanya terjadi antara pukul 01.00 WIB hingga 05.00 WIB.

Penurunan suhu tersebut terjadi karena tekanan angin yang cukup tinggi, dan kerap terjadi pada bulan Juni hingga Agustus. Puncaknya, sekitar awal dan pertengahan Juli.

Dikutip dari iNews, dalam laman sosial media Instagram salah satu wisatawan memposting fenomena tersebut.

“Eropa sekarang pindah ke Jawa. Semoga bukan hanya dinginnya saja yang pindah ke Indonesia, tetapi majunya juga. Bukan di Gunung Everest, Anapurna, atau Jaya Wijaya. Ini di Bromo! Pagi ini dan beberapa hari kemarin, Bromo diselimuti salju tipis atau biasa disebut bun upas. Fenomena alam ini masih akan berlanjut sekitar satu bulan. From @ojekgunung #bromo #saljudibromo,” tulis Instagram @jalanjalandijawa, dikutip Sabtub(6/7/2019).

Baca juga:  Alya Nurshabrina: Emansipasi adalah Kebebasan

Saat ini, cuaca ekstrem di Bromo semakin dingin, mencapai minus 4 derajat celsius pada pagi hari. Embun es pun semakin meluas. Dari sekitaran Cemoro Lawang, kabut tebal menutup sebagian permukaan Laut Pasir Bromo. Sebagian kecil lautan pasir lainnya masih terlihat.

Ketika pengunjung turun ke lautan pasir, hampir semua bagian lautan pasir itu tertutup embun es. Warna putih mirip salju menghampar luas di permukaan lautan pasir. Kondisi ini terjadi sejak beberapa hari terakhir. Sebelumnya, embun es hanya menempel di dedaunan, kali ini sudah menyebar dan menutup lautan pasir.

Sejak adanya fenomena ini, bunga edelweiss di kawasan Bromo terlihat eksotis. Embun yang membeku menyerupai salju itu membuat bunga abadi itu terlihat lebih cantik. Tak akan ada dampak yang ditimbulkan bagi edelweiss yang membeku. Justru, frost bisa menjadi media pemulihan ekosistem secara alami, karena biasanya setelah kering, terkena frost akan muncul regenerasi yang lebih eksotik lagi.

Pengelola Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) mengimbau agar wisatawan mengenakan baju tebal, sehingga menjaga suhu tubuh dari serangan hipotermia. Diperkirakan, fenomena embun beku ini akan terus berlanjut sampai September 2019 mendatang. Dari perhitungan, puncak suhu terdingin, di Bromo bisa terjadi pada pertengahan Juli.

Sebelumnya dalam beberapa hari terakhir, kawasan Dieng mengalami penurunan suhu yang cukup drastis, hingga berada di angka -9 derajat celcius pada Senin, 24 Juni 2019. Penurunan suhu ini mengakibatkan kawasan Dieng membeku dan diselimuti embun salju.

Baca juga:  RCTI Sports: Barca Bantai Liverpool 3-0

BMKG memprediksi potensi kondisi suhu dingin seperti di Dieng masih bisa berlangsung selama periode puncak musim kemarau, dari Juni hingga Agustus mendatang. Selain Dieng, kawasan Jawa Timur dan Nusa Tenggara juga akan terdampak suhu dingin ini.